Macroeconomic Dashboard

Switch to desktop

GAMA Leading Economic Indicator dan Economic Outlook 2013:I

GAMA Leading Economic Indicator

Siklus bisnis Indonesia yang didekati dengan menggunakan data kuartalan PDB Indonesia tahun 2000 – 2012 menunjukan pergerakan yang cukup fluktuatif. Gerakan siklus bisnis PDB ini dapat diprediksikan dengan Leading Economic Indicator (LEI). LEI ini mampu memprediksi titik balik dari suatu siklus bisnis perekonomian.

Pada saat krisis ekonomi global 2008, sinyalemen dari titik balik LEI pada kuartal III 2007 ini mampu memprediksi adanya penurunan kinerja perekonomian Indonesia pada kuartal III 2008. Selanjutnya, sinyal titik balik LEI pada kuartal I 2009 mampu memprediksi adanya peningkatan kinerja perekonomian pada kuartal IV 2009.

LEI pada kuartal II 2012 menunjukan titik balik yang kemudian diikuti dengan adanya penurunan ataupun titik balik pada pergerakan siklus bisnis di kuartal III 2012. LEI ini cenderung terus menurun hingga penghujung akhir kuartal IV 2012 yang berarti ada gejala perlambatan perekonomian Indonesia.

Pada awal kuartal I 2013, diprediksikan siklus bisnis atau kinerja perekonomian Indonesia ada kecenderungan melambat. Hal ini terjadi karena proyeksi atau sinyal dari LEI belum menunjukan titik balik yang menyebabkan perekonomian bergerak ke arah lebih baik semenjak kuartal IV 2012. Diharapkan dengan adanya sinyal LEI yang masih menurun di akhir tahun 2012, para pembuat kebijakan dan swasta mampu menentukan strategi untuk menopang serta meredam perlambatan perekonomian di awal hingga pertengahan tahun 2013.

 

 

Proyeksi Indikator Ekonomi Makro

Hasil survey yang melibatkan beberapa responden yang merupakan dosen-dosen dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM memberikan gambaran perkiraan pertumbuhan PDB, inflasi, dan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika, dari Q1 2013 hingga Tahun 2014. Perkiraan pertumbuhan PDB riil YoY secara umum tidak optimis. Untuk periode triwulan I dan II tahun 2013 pertumbuhan PDB riil seperti ditunjukkan pada Tabel 5 dari survey sebesar masing-masing 6,17% dan 6,21%. Perkiraan pertumbuhan PDB untuk tahun 2013 dan 2014 masing-masing sebesar 6,32% dan 6,3%. Perkiraan inflasi YoY secara umum meningkat. Perkiraan untuk periode triwulan I dan II tahun 2013 seperti ditunjukkan pada Tabel 6 yang didapat dari survey sebesar masing-masing 4,46% dan 4,52%. Perkiraan inflasi untuk tahun 2013 dan 2014 sebesar masing-masing 4,67% dan 4,88%. Sedangkan perkiraan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika untuk triwulan I dan II tahun 2013 sebesar masing-masing IDR 9.738 dan IDR 9.776. Perkiraan nilai tukar untuk tahun 2013 dan 2014 sebesar IDR 9.704 dan IDR 9.765.

Tabel 5: Pertumbuhan dan Proyeksi PDB

Tahun 2013-2014

 

YoY (%)

Q4 2012*

Q1

2013

Q2

2013

 

2012*

 

2013

 

2014

6,11

6,17

6,21

6,23

6,32

6,30

                         Keterangan: * = angka realisasi

 

Tabel 6: Inflasi dan Proyeksi

Tahun 2013-2014

 

YoY (%)

Q1

2013

Q2

2013

2012*

2013

2014

4,46

4,52

4,3

4,67

4,88

Keterangan: * = angka realisasi

 

Tabel 7: Nilai Tukar dan Proyeksiz

Tahun 2013-2014

 

(IDR/USD)

Q1

2013

Q2

2013

2012*

2013

2014

9738

9776

9670

9704

9765

Keterangan: * = angka realisasi

 

 

Economic Outlook

Awal tahun 2013 dipenuhi dengan berbagai isu politik yang mulai menghangat yang menandakan masuknya Indonesi kedalam tahun politik, meskipun Pemilu baru akan dilaksanakan tahun depan. Dikhawatirkan kondisi ekonomi dan keuangan Indonesia akan dipengaruhi oleh mulai menghangatnya suhu politik ditanah air, karena konsentrasi pejabat dalam menjalankan tugasnya akan terganggu dan efektivitas kebijakan ekonomi semakin berkurang. Kondisi tersebut bisa memberikan tekanan pada perekonomian Indonesia. Padahal perkembangan ekonomi internasional pada awal tahun 2013 juga masih belum menggembirakan. Ekonomi kawasan Euro pada kuartal 4 tahun 2012 masih kontraksi 0,9%, sementara ekonomi AS hanya tumbuh 1,5%. Padahal masalah ekonomi kawasan Euro juga masih berat, serta peningkatan pajak dan pengetatan anggaran di AS akan membuat kondisi ekonomi global masih akan mengalami tekanan yang berat. Sementara itu pertumbuhan ekonomi China dan India juga menurun. Oleh karena itu ekonomi global masih diperkirakan masih akan melemah. Pelemahan ekonomi dan ketidak pastian ekonomi global akan memberikan dampak yang negatip bagi ekonomi Indonesia.

Faktor internasional yang menekan ekonomi melalui perdagangan, investasi asing ataupun pasar keuangan, serta kondisi domestik yang juga kurang dapat memberikan dukungan iklim yang kondusif bagi bisnis dan investasi akan memberikan tekanan yang berat pada stabilitas ekonomi makro serta pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian kita memperkirakan bahwa ekonomi Indonesia belum akan segera membaik. Inflasi diperkirakan akan meningkat, volatilitas rupiah masih akan besar, dan pertumbuhan ekonomi belum akan segara meningkat signifikan. Oleh karena itu otoritas ekonomi diharapkan tetap fokus pada menjaga stabilitas ekonomi makro serta memberikan berbagai dukungan ataupun stimulus yang diperlukan bisnis dan dunia usaha agar stabilitas ekonomi terjaga dengan baik dan pertumbuhan ekonomi tidak kepangkas lagi.